:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377212/original/008423800_1792412710-karhutla-di-mentigen-kawasan-gunung-bromo-menewaskan-tiga-9q-erzk.jpg)
Kebakaran hutan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah merenggut nyawa seorang relawan lokal bernama Munawi (44), yang secara sukarela membantu pemadaman api. Dia meninggal pada Senin (19 Oktober 2026) pukul 14.55 WIB setelah dirawat intensif di RSUD dr. Soetomo, Surabaya, sehingga total korban jiwa kebakaran ini menjadi lima orang.
Munawi, yang merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), awalnya dirawat di RSUD Probolinggo sebelum dirujuk ke RSUD dr. Soetomo pada malam Kamis (25 Oktober 2026). Dia mengalami luka bakar parah yang mencakup 51 persen dari permukaan tubuhnya, kondisi yang sangat kritis.
Tim dokter di ruang perawatan intensif melakukan berbagai upaya penyelamatan, mulai dari membersihkan jaringan luka hingga memberikan obat untuk mendukung kerja jantung. Namun, keadaan kesehatan Munawi semakin memburuk karena kegagalan organ multipel—artinya, beberapa organ tubuhnya berhenti berfungsi dengan baik.
Staf rumah sakit menjelaskan bahwa sejak Senin pagi, tekanan darah Munawi terus menurun drastis dan tidak merespons peningkatan dosis obat jantung. “Pasien mengalami syok kardiogenik dengan tekanan darah yang terus merosot. Meski dosis obat penunjang jantung terus ditingkatkan, tidak ada respons perbaikan,” ujar Adin Niken dari Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD dr. Soetomo.
Meskipun tim medis sempat melakukan resusitasi jantung paru, nyawa Munawi tidak terselamatkan. “Munawir dinyatakan meninggal dunia di hadapan pihak keluarga,” tambah Niken. Berbeda dari korban lainnya yang merupakan petugas resmi, Munawi adalah warga setempat yang memilih mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan kawasan konservasi.
Kebakaran dimulai pada Kamis pagi (15 Oktober 2026) saat titik api terdeteksi di kawasan Pusung Lingker dan Mentigen, Sukapura, Probolinggo. Sekira pukul 13.30 WIB, angin kencang tiba-tiba bertiup dan mengubah arah api, membuatnya meluas dengan cepat. Para penyelamat terjebak di medan yang terjal dengan asap pekat mengelilingi mereka.
Peristiwa tragis ini menjadi pengingat serius tentang risiko tinggi yang dihadapi para petugas dan relawan dalam menanggulangi bencana kebakaran di area konservasi yang medan-nya sangat ekstrem dan berbahaya.
Sumber: Liputan6




