
Kebakaran hutan bukan sekadar merusak pemandangan alam. Bagi orang utan, musibah ini membawa konsekuensi jauh lebih berat—kehilangan rumah, sumber makanan, bahkan nyawa. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Drh Raden Wisnu Nurcahyo, sekitar 60 persen dari 57.000 orang utan di habitat alami mereka sangat terdampak oleh bencana ini.
Ketika api menjilat hutan, orang utan kehilangan lebih dari sekadar tempat tinggal. Pohon-pohon yang biasanya menjadi sumber makanan sekaligus sumber air bagi mereka habis terbakar. Terpaksa turun ke permukaan tanah untuk mencari air, orang utan menghadapi ancaman baru yang tak terduga.
Lahan gambut yang terbakar menyimpan bahaya tersembunyi. Bara api yang tertanam dalam tanah siap menunggu setiap makhluk yang lewat. “Ketika satwa turun ke bawah dan menginjak tanah, banyak kakinya yang terkena luka bakar karena lahan gambut menyimpan bara di dalam tanah,” jelas Wisnu.
Dampak kebakaran tidak terbatas pada luka fisik. Orang utan memiliki kemampuan unik memilih tumbuhan tertentu untuk menyembuhkan diri mereka sendiri—sebuah perilaku yang dalam istilah ilmiah disebut self-medicated animal behavior. Ketika keragaman tumbuhan menghilang karena kebakaran, orang utan kehilangan “apotek alami” mereka.
Penelitian Wisnu di Sebangau, Kalimantan Tengah, menemukan fakta menarik: beberapa tumbuhan yang digunakan orang utan untuk kesehatan juga dikenal masyarakat Dayak setempat. “Misalnya di Sebangau, saya penelitian di sana ya, itu ada beberapa tanaman yang oleh masyarakat Dayak itu sebagai obat-obatan. Sumbernya dari orang utan. Dia belajar,” tutur Wisnu.
Asap tebal dari kebakaran juga menjadi pembunuh diam-diam. Iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan menjadi masalah kesehatan yang paling sering ditemukan pada orang utan pasca-kebakaran. Dalam kasus parah, gangguan pernapasan ini berakhir dengan kematian.
Namun angka kematian sesungguhnya jauh lebih besar dari catatan resmi. Petugas umumnya hanya menemukan orang utan yang berada di wilayah mudah dijangkau, seperti jalur yang sering dilalui manusia. Sementara jutaan hektare habitat orang utan di Kalimantan (1,9 juta hektare) dan Sumatera (1,1 juta hektare) tetap menjadi area gelap yang tak terpantau.
“Yang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan,” kata Wisnu. Artinya, ribuan orang utan mungkin telah hilang dalam keheningan hutan yang terbakar, tanpa tercatat dalam statistik resmi manapun.
Sumber: Detik Travel
Jelajah Lainnya

Dewan Pers Anugerahi Empat Kategori Penghargaan, Najwa Shihab dan Mahfud MD Raih Gelar Tertinggi

Minibus Wisatawan Rem Blong di Tikungan Tajam Pacet, 8 Orang Luka

Trans Snow World Buka Promo Tiket Murah di 3 Kota, Termurah Rp 85 Ribu

