:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372210/original/047857400_1791871543-IMG-20261013-WA0046.jpg)
Pada Selasa siang (13/10/2026) pukul 11:00 WIB, guncangan gempa bumi mengguncang wilayah selatan Jawa Timur dan sebagian Pulau Bali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kekuatan gempa mencapai magnitudo 4,9 dengan pusat getaran berlokasi di laut.
Episenter gempa terletak di koordinat 9,45 LS dan 113,95 BT, atau sekitar 141 kilometer sebelah barat daya Jembrana, Bali. Kedalaman gempa tergolong dangkal, hanya 12 kilometer dari permukaan laut, yang membuat getaran dirasakan lebih luas di daratan.
Ricko Kardoso, Kepala Stasiun Geofisika Malang, menjelaskan penyebab gempa dalam analisis BMKG. Menurutnya, “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar bawah laut.”
Getaran gempa dirasakan di sejumlah lokasi dengan intensitas bervariasi. Di Jember, Kuta Selatan, Denpasar, dan Karangasem, gempa terasa pada skala II MM dengan sensasi “Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan-akan truk berlalu.” Sementara di Malang, Blitar, Bondowoso, dan Lumajang, intensitas gempa mencapai skala II.
BMKG memberikan jaminan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami meskipun berpusat di wilayah laut. Hingga pukul 11:25 WIB, monitoring BMKG menunjukkan belum ada aktivitas gempa susulan (aftershock) yang terdeteksi setelah guncangan awal.
Lembaga meteorologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari saluran komunikasi resmi BMKG. Situasi keamanan secara umum masih terjaga kondusif di kedua wilayah yang terdampak.
Sumber: Liputan6
Jelajah Lainnya

Lula Kembali Pimpin Brasil, Indonesia Lihat Peluang Perkuat Hubungan Bilateral

IPDN Minta Gubernur Sumut Berbagi Pengalaman Kepada Calon Pemimpin Daerah

Pulau Sebesi Diguyur Abu Vulkanik Anak Krakatau, Warga Diminta Jaga Kesehatan

