
Jejak kereta api peninggalan Belanda masih terlihat jelas dalam bentuk dan tata letak kota-kota besar Indonesia saat ini. Infrastruktur transportasi yang dibangun lebih dari seabad lalu tidak hanya mengubah cara orang berpindah tempat, tetapi juga membentuk struktur kehidupan perkotaan secara menyeluruh.
Pada awalnya, jaringan kereta api dibangun dengan tujuan ekonomi murni—mengangkut hasil perkebunan seperti tebu, kopi, dan karet ke pabrik dan pelabuhan. Namun, menurut Arida Fitriana Yasmin, peneliti dari Universitas Groningen yang ikut berdiskusi dalam forum Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia pada Oktober 2026, pembangunan ini memiliki dimensi politik yang lebih dalam.
“Perluasan jaringan kereta api tidak hanya ditujukan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk menjalankan fungsi politik. Dengan membuat wilayah-wilayah terpencil menjadi lebih mudah dijangkau, jaringan ini memfasilitasi kendali administratif sekaligus memperkuat kekuasaan kolonial,” jelas Arida.
Seiring berjalannya waktu, kereta api dan trem berkembang melampaui fungsi kargo. Moda transportasi ini membuka jalan bagi masyarakat untuk bepergian lebih mudah, membuka peluang perdagangan, dan memperkuat interaksi sosial antarwilayah. Di Batavia, kereta dan trem menghubungkan pusat kota dengan daerah pinggiran. Di Surabaya, trem listrik mendorong berkembangnya kawasan permukiman baru. Bandung dan Malang, meski kota pedalaman, juga mengalami perkembangan industri dan perumahan berkat akses transportasi kereta api.
Awalnya, stasiun-stasiun dibangun di tepi kota karena pertimbangan biaya dan lahan yang murah. Namun, ketika kota terus bertumbuh, infrastruktur kereta api menjadi bagian integral dari struktur kota itu sendiri. Hingga kini, warisan bangunan stasiun bersejarah dan jalur rel masih ada, meskipun hampir dua ribu kilometer jalur sudah tidak beroperasi lagi.
Beberapa kota mulai memanfaatkan warisan perkeretaapian ini untuk pengembangan masa depan. Stasiun Jakarta Kota di Kota Tua dan museum sejarah perkeretaapian di Kota Lama Semarang menunjukkan bagaimana aset bersejarah bisa diintegrasikan dengan rencana perkotaan modern. Hal ini membuka peluang besar untuk tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menggunakannya sebagai pendorong pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
Sumber: Detik Travel




