:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3276071/original/013936200_1603437779-word-stop-with-child-s-hand-dark-wall.jpg)
Seorang perempuan penyandang disabilitas intelektual yang menjadi korban pemerkosaan di Makassar mengalami histeria setelah dua kali berpapasan dengan terduga pelaku di dalam kantor Polrestabes Makassar saat proses pemeriksaan berlangsung. Kejadian ini memicu kecaman keras dari keluarga korban setelah videonya menyebar luas di media sosial.
Nabila May Sweetha, aktivis disabilitas sekaligus sepupu korban, yang mengunggah video tersebut mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi yang dialami korban. Ia mempertanyakan prosedur penanganan kasus kekerasan seksual yang menurutnya tidak berpihak pada korban. “Sepupuku diperkosa kemarin, dirudapaksa dan lain-lain. Dan kepolisian, kurang dari 24 jam mempertemukan dia dengan pelaku pemerkosaan itu di kantor polisi. Saya tidak tahu ini sengaja atau tidak sengaja, dan saya tidak tahu apakah itu wajar dalam proses penanganan kasus kekerasan seksual berat, tapi saya merasa ini tidak manusiawi,” kata Nabila dalam videonya.
Nabila juga menyoroti posisi keluarga yang dinilai lemah secara sumber daya dibanding terduga pelaku. Ia menyebut korban kesulitan memberikan keterangan secara runtut karena kondisi disabilitasnya, sementara terduga pelaku digambarkan sebagai sosok yang memiliki jaringan luas. “Sebagai keluarga, saya paham bahwa posisi kami sangat lemah. Sepupuku disabilitas intelektual yang punya hambatan untuk memberi keterangan lengkap, runtut kepada kepolisian. Kami juga bukan keluarga besar dengan sumber daya besar. Sementara pelaku itu orang besar, punya banyak relasi, orang kaya, mantan kapten kapal,” ujarnya.
Menanggapi video viral itu, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana membantah ada unsur kesengajaan dari pihak kepolisian. Ia menjelaskan bahwa pertemuan pertama terjadi saat pelaku baru diamankan dan korban kebetulan masih berada di ruang pemeriksaan. “Jadi saya tadi tanyakan penyidiknya. Disampaikan saat pertama kali ditangkap korban pas masih diperiksa dan melihat pelaku langsung histeris,” kata Arya.
Arya memastikan pihaknya sudah mengkonfirmasi langsung kepada anggota yang bertugas bahwa tidak ada yang sengaja mengatur pertemuan tersebut. Ia juga menegaskan akan mengambil tindakan tegas jika kelak terbukti ada anggota yang melakukan hal itu dengan sengaja. Meski begitu, insiden ini menjadi pengingat penting bahwa penanganan korban kekerasan seksual, terutama penyandang disabilitas, memerlukan prosedur yang jauh lebih sensitif dan terstandar agar trauma korban tidak semakin berat.
Sumber: Liputan6
Jelajah Lainnya

Pria di Madiun Ditangkap Usai Membunuh Istri Siri dan Anak Berusia 4 Tahun

Dari Tong Biru hingga Lemari Besi, Trik Aneh Pejabat Sembunyikan Uang Hasil Korupsi

Seorang Ayah Lansia Tewas Dibacok Anak Kandung di Kebun Brebes

