:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341060/original/013767900_1788577880-ut2.jpg)
Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah sedang menghadapi krisis serius. Kebakaran hutan yang melanda kawasan konservasi orangutan terbesar di dunia ini mengancam keberlangsungan hidup ribuan orangutan yang tersisa di pulau tersebut.
Populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memang sudah dalam kondisi kritis. Organisasi internasional IUCN telah menetapkan status konservasi spesies ini sebagai “Critically Endangered” atau sangat terancam punah, bahkan sebelum kebakaran terjadi.
Situasi menjadi lebih parah karena tim evakuasi melaporkan bahwa beberapa orangutan berhasil diselamatkan dan dikumpulkan di tempat aman, namun ada juga yang terjebak dalam kebakaran. Menurut Wancino, Direktur Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Kalteng, “Dari laporan tim, orangutan Tanjung Puting dievakuasi, ada beberapa yang diarahkan di satu titik (aman), yang terjebak kemungkinan meninggal. Belum diketahui pasti jumlahnya.”
Kebakaran hutan gambut tidak mudah untuk dipadamkan dengan metode konvensional. Hutan gambut Kalimantan telah mengalami perubahan karakteristik akibat deforestasi masif dan pembukaan lahan pertanian, menyebabkan lahan kehilangan kelembapan alaminya dan mudah terbakar.
Wancino mengungkapkan bahwa kebakaran di Kalteng bukan sekadar bencana alam biasa. Masalah ini melibatkan dimensi politis dan kepentingan korporat, di mana hutan telah terparcela menjadi kavling-kavling yang dikelola berbagai pihak swasta dengan perizinan yang problematik.
Pakar bencana dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa kebakaran berulang di Kalimantan dipicu oleh tiga faktor yang saling terkait. Pertama adalah iklim dan cuaca—musim kemarau panjang dan fenomena El Niño menurunkan kelembapan tanah hingga bahan organik mudah terbakar, sementara suhu tinggi dan angin kencang mempercepat penyebaran api.
Faktor kedua melibatkan aktivitas manusia, mulai dari penggunaan api untuk pembukaan lahan hingga kelalaian yang tidak disengaja. Daryono menekankan pentingnya investigasi lapangan untuk menentukan penyebab spesifik setiap kebakaran, bukan sekadar generalisasi.
Faktor ketiga adalah kerentanan ekosistem gambut. Dalam kondisi alami yang basah, gambut sulit terbakar, namun ketika terjadi pengeringan atau penurunan muka air tanah, material organik tersebut menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Selama ketiga faktor pemicu tersebut tidak dikendalikan secara konsisten, pola kebakaran hutan di Kalimantan diperkirakan akan terus terulang, mengancam tidak hanya orangutan tetapi seluruh ekosistem regional. Penegakan hukum terhadap kejahatan hutan dan peninjauan ulang perizinan korporasi dianggap langkah krusial untuk memutus siklus bencana ini.
Sumber: Liputan6
Jelajah Lainnya

Lula Kembali Pimpin Brasil, Indonesia Lihat Peluang Perkuat Hubungan Bilateral

IPDN Minta Gubernur Sumut Berbagi Pengalaman Kepada Calon Pemimpin Daerah

Pulau Sebesi Diguyur Abu Vulkanik Anak Krakatau, Warga Diminta Jaga Kesehatan

