
Empat danau es di pegunungan Himalaya akan dikuras oleh pemerintah Nepal dalam upaya mencegah banjir bandang yang selama ini mengancam jutaan jiwa. Rencana besar senilai sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp895 miliar ini muncul setelah bencana dahsyat yang menewaskan lebih dari 1.400 orang, dipicu runtuhnya gletser pada Agustus lalu.
Keempat danau yang menjadi sasaran adalah Thulagi, Lower Barun, Lumding Tsho, dan Hongu II. Semuanya bercokol di ketinggian antara 4.050 hingga 5.483 meter di atas permukaan laut dan masuk kategori danau gletser paling berisiko di Nepal. Hingga kini, tim pencari masih berupaya menemukan lebih dari 5.000 orang yang dilaporkan hilang di wilayah perbatasan Nepal dan China.
Cara kerjanya adalah mengalirkan air dari danau-danau itu melalui kanal buatan menuju sungai terdekat. Tapi prosesnya jauh dari mudah — petugas harus bekerja di ketinggian ekstrem sambil menghadapi ancaman banjir yang bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan.
“Tujuan kami adalah menurunkan risiko jebolnya danau akibat bendungan alami serta mengurangi risiko banjir di wilayah hilir,” terang Subash Tuladhar, pakar dari pusat penelitian Pemerintah Nepal.
Kajian awal proyek akan dimulai pada tahun fiskal yang berakhir pertengahan Juli 2027. Dana proyek berasal dari Green Climate Fund, UNDP, dan pemerintah Nepal sendiri. Pengerjaan fisiknya diperkirakan memakan waktu hingga enam tahun.
Selain menguras danau, Nepal juga akan memasang sensor pemantau dan membangun sistem peringatan dini banjir. Ini bukan kali pertama Nepal melakukan langkah serupa — pada tahun 2000 mereka pernah menurunkan permukaan Danau Tsho Rolpa sekitar 3 meter, dan proyek serupa juga dilakukan di Danau Imja dekat Gunung Everest sekitar satu dekade lalu.
Ancaman ini kian serius seiring perubahan iklim. Gletser Himalaya terus menyusut akibat kenaikan suhu global, dan Nepal telah mencatat sekitar 26 kejadian banjir akibat jebolnya danau gletser dalam empat dekade terakhir. Rata-rata, bencana semacam ini menewaskan lebih dari 300 orang dan menyebabkan kerugian jutaan dolar setiap tahunnya.
Pakar gletser Samjwal Ratna Bajracharya dari ICIMOD — lembaga riset pegunungan internasional — mengingatkan bahwa ancaman ini nyata dan bisa datang kapan saja. “Danau-danau tersebut berkembang dengan cepat, berada jauh di ketinggian Himalaya dan dapat meluap kapan saja akibat gempa bumi, longsoran salju, kondisi iklim, serta aktivitas manusia yang tidak terencana,” ujarnya. Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, jutaan warga di lembah-lembah bawah Himalaya bisa bernapas sedikit lebih lega.
Sumber: Detik Travel
Jelajah Lainnya

Lula Kembali Pimpin Brasil, Indonesia Lihat Peluang Perkuat Hubungan Bilateral

IPDN Minta Gubernur Sumut Berbagi Pengalaman Kepada Calon Pemimpin Daerah

Pulau Sebesi Diguyur Abu Vulkanik Anak Krakatau, Warga Diminta Jaga Kesehatan

