Petani di Kabupaten Semarang Diajari Baca Cuaca agar Panen Tak Gagal

Petani di Kabupaten Semarang Diajari Baca Cuaca agar Panen Tak Gagal

Puluhan petani di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kini punya bekal baru untuk menghadapi cuaca yang makin tak menentu. Pada Selasa (29/7/2026), mereka mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik, sebuah program edukasi yang dirancang agar petani bisa memahami kondisi iklim dan menghindari gagal panen.

Program ini digelar oleh Stasiun Klimatologi Jawa Tengah dari BMKG, bekerja sama dengan Komisi V DPR dan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang. Pesertanya berasal dari berbagai gabungan kelompok tani atau gapoktan yang ada di desa tersebut.

Kepala Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa SLI hadir dalam dua jenis. “Jadi, program SLI ini merupakan program edukasi iklim yang digulirkan BMKG untuk menjembatani kebutuhan para petani dengan pendampingan teknis dari Dinas Pertanian terkait, dan jenisnya ada dua yakni, SLI Tematik dan SLI Operasional,” katanya.

SLI Tematik fokus pada pemahaman dasar soal iklim dan penggunaan aplikasi digital. Sementara SLI Operasional lebih intensif, mendampingi petani langsung dari tahap perencanaan tanam, perawatan tanaman, sampai masa panen. BMKG menargetkan enam kali penyelenggaraan SLI di Jawa Tengah sepanjang tahun 2026.

Di sisi lain, Plt Dispertanikap Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, menyoroti bahwa cara lama petani memperkirakan musim sudah mulai ketinggalan zaman. “Dulu petani kita mengandalkan Pranata Mangsa untuk memperkirakan iklim dan cuaca. Namun, kondisi zaman sudah berubah, sehingga kearifan lokal tersebut sering kali sudah tidak akurat,” ujarnya. Pranata Mangsa adalah sistem penanggalan tradisional Jawa yang biasa dipakai petani untuk menentukan waktu tanam.

Ia juga menegaskan pentingnya informasi iklim yang tepat, terutama bagi lahan pertanian yang tidak memiliki irigasi dan hanya mengandalkan air hujan. “Langkah ini sangat vital, karena menyangkut air ya, terutama bagi kawasan pertanian non-irigasi yang sangat bergantung pada pasokan air hujan. Apalagi, banyak petani di penghujung tahun itu justru nekat menanam, padahal hujan sudah tidak turun,” katanya.

Melalui program ini, para petani diharapkan bisa menentukan jadwal tanam yang lebih tepat dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim setempat, sehingga risiko kerugian akibat gagal panen bisa ditekan semaksimal mungkin.

Sumber: Antara News

Jelajah Lainnya

Scroll to Top