Kebakaran Hutan di Barito Kuala Ancam Permukiman, Kualitas Udara Masuki Zona Berbahaya

Kebakaran Hutan di Barito Kuala Ancam Permukiman, Kualitas Udara Masuki Zona Berbahaya

Kalimantan Selatan sedang menghadapi krisis kebakaran hutan dan lahan yang serius. Hingga 14 Oktober 2026, seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini telah mencatat 4.926 peristiwa kebakaran dengan total luas lahan terdampak mencapai 27.202,97 hektare—angka yang terus bertambah seiring waktu.

Kabupaten Barito Kuala menjadi wilayah paling terdampak. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan 467 kejadian kebakaran telah memusnahkan 3.276,82 hektare lahan di kabupaten ini saja dalam periode yang sama.

Pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, api kembali menyambar di Jalan HM Yunus, Sungai Rasau, Kecamatan Cerbon. Titik kebakaran ini terletak hanya 100 hingga 200 meter dari jalan utama yang menghubungkan kota Banjarmasin ke kawasan Banua Anam di utara. Api terus berkobar hingga pukul 22.45 Wita malam itu.

Posisi kebakaran yang dekat dengan permukiman warga membuat situasi menjadi kritis. Sejumlah petugas segera berdatangan untuk bersiap dan mencegah api merambat ke rumah-rumah penduduk serta infrastruktur listrik yang ada di tepi jalan tersebut.

Nazar, warga lokal berusia 23 tahun, menceritakan pengalamannya saat itu: “Baru kali ini kebakaran terjadi di titik ini, tepat di pinggir jalan, banyak warga yang berjaga.” Dia mengamati api mulai terlihat sejak waktu Magrib dan kembali menyala setelah Isya.

Dampak kebakaran tidak hanya secara langsung mengancam properti warga. Kualitas udara di kawasan ini juga memburuk drastis akibat asap tebal dari kebakaran hutan. Pada hari Minggu pukul 22.00 Wita, pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup mencatat konsentrasi PM2.5 (partikel halus penyebab polusi udara) mencapai 307 mikrogram per meter kubik—jauh melampaui ambang aman yang seharusnya berada di rentang 0-15,5 mikrogram.

Status indeks standar pencemar udara di Barito Kuala telah memasuki zona hitam, kategori paling berbahaya untuk kesehatan manusia. Kondisi ini menambah beban bagi warga yang tidak hanya khawatir terhadap ancaman kebakaran langsung, tetapi juga risiko kesehatan dari paparan udara tercemar dalam jangka panjang.

Sumber: Liputan6

Jelajah Lainnya

Scroll to Top