Dari Rumah Kos Sederhana Jadi Museum Bersejarah: Cerita Unik Sumpah Pemuda

Dari Rumah Kos Sederhana Jadi Museum Bersejarah: Cerita Unik Sumpah Pemuda

Siapa yang menduga bahwa bangunan bercat putih di Jalan Kramat 106, Jakarta, dulunya hanyalah rumah kos biasa? Kini tempat tersebut menjadi Museum Sumpah Pemuda, salah satu destinasi wisata edukasi yang menyimpan kenangan penting bagi sejarah Indonesia. Dari rumah sewa sederhana untuk mahasiswa Stovia dan sekolah hukum, gedung berusia lebih dari satu abad ini berubah menjadi simbol persatuan bangsa.

Pada 27-28 Oktober 1928, ruang-ruang di gedung ini menjadi tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Lebih dari 20 pemuda dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan budaya berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama di sini untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Yang paling istimewa, di gedung ini pula lagu “Indonesia Raya” pertama kali dimainkan menggunakan biola. Koleksi asli berupa biola milik WR Supratman, piringan hitam perekaman pertama lagu kebangsaan tahun 1927, hingga majalah Sin Po yang mendokumentasikan penyebaran lagu tersebut kini tersimpan dengan aman di lantai dua museum.

“Kami memiliki rekaman asli Indonesia Raya, alat perekam, serta media penyebarannya. Semua itu menjadi keunikan Museum Sumpah Pemuda,” kata Fathul Futuh Tamam, anggota tim Edukator Museum Sumpah Pemuda. Biola ini bahkan dinobatkan sebagai cagar budaya nasional nomor tiga, setelah bendera jahitan Fatmawati dan naskah proklamasi tulisan Soekarno.

Keunikan arsitektur gedung juga patut diperhatikan. Lantainya menampilkan motif bikar biru di bagian depan dan motif batik di dalam, yang merepresentasikan strata sosial masa lalu. Hingga kini, lantai, dinding, dan tiang bangunan asli masih dipertahankan tanpa renovasi besar, menjaga keaslian sejarah yang terpancar dari setiap sudutnya.

Perjalanan gedung ini berakhir dengan kisah mulia—keluarga Sie Kong Lian, pemilik awal, menyadari pentingnya nilai sejarah bangunan ini dan menghibahkannya kepada negara tanpa biaya. Halaman belakang yang dulunya lahan pertanian untuk penghuninya kini menjadi ruang publik dengan Monumen Persatuan Pemuda, mengundang generasi baru untuk merenungkan makna persatuan dan perjuangan.

Sumber: Detik Travel

Jelajah Lainnya

Scroll to Top